Nyelekit, Jokowi Sentil Mendikbud dan Menristekdikti

Presiden Joko Widodo kembali menyentil para menterinya. Kali ini yang terkena adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dan Menteri Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi Muhammad Nasir. Jokowi meminta kedua menterinya itu memiliki sebuah fleksibilitas sehingga bisa merespon setiap perubahan-perubahan yang ada di dunia.
"Mendikbud, Mendikti itu sangat harus sangat responsif terhadap perubahan-perubahan yang ada di global maupun perubahan-perubahan yang kita hadapi di negara kita," ujarnya saat berpidato dalam acara Rapimnas I Partai Hanura di The Stone Hotel, Kuta, Bali, Jumat (4/8).  Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menjelaskan, perubahan global atau  perubahan dunia nyata adanya. Menurutnya, lima sampai sepuluh tahun mendatang akan muncul generasi yang mempengaruhi pasar, mengendalikan pasar, mempengaruhi landscape politik, dan mempengaruhi landscape ekonomi kita.


"Akan terjadi perubahan yang sangat besar transisi ini yang harus kita waspadai landscape politiknya akan berubah karena generasi-generasi mempengaruhi ekonomi dan landscape politik," tuturnya.

Oleh sebab itu, selain membangun infratruktur yang terus dilakukan sampai saat ini, Jokowi berharap kualitas sumber daya manusia juga ditingkatkan.

"Ini wajib dan harus kita lakukan karena persiapan-persiapan dalam menghadapi persaingan global itu betul. Itu harus kita siapkan secara detail dan secara baik," imbuhnya.

Dia mengatakan, tidak bisa lagi pendidikan kejuruan, training skill, perguruan tinggi, universitas, bersifat monoton dan linier, untuk mengikuti perubahan zaman.

Misalnya SMK. Kata Jokowi, sudah beberapa puluh tahun jurusan yang ada di sana adalah jurusan bangunan, jurusan listrik, ataupun jurusan mesin.

"Mestinya jurusan-jurusan ini juga harus diganti dengan perubahan-perubahan yang ada. Bisa saja di situ jurusan animasi, jurusan video, jurusan ritel misalnya. Kenapa tidak? Jurusan mekatronika, padahal sudah berubah," tegasnya.

Begitu pula di perguruan tinggi. Jurusannya rata-rata hanya hukum, ekonomi, sosial, dan politik. "Tidak pernah kita berani detail masuk ke hal yang dibutuhkan sekarang ini. Kita terlalu linier, terlalu rutinitas, padahal perubahan-perubahan ini sangat cepat sekali," singgungnya.

Jokowi menilai, Perguruan Tinggi harus  masuk ke hal yang memang dibutuhkan oleh masyarakat, industri, pasar, dan negara. Misalnya dengan mendirikan fakultas human resources management, fakultas logistik, fakultas ritel platform, fakultas khusus mengenai packaging, fakultas mengenai e-Sport, atau fakultas mengenai green building.

"Sudah berubah, kalau kita tidak mau berubah seperti itu sangat berbahaya sekali kita kalah dalam persaingan persaingan global. Kalau kita masih berputar pada rutinitas berkutat hal yang linier tidak berani melakukan terobosan-terobosan, kita bisa ditinggal oleh zaman dan kalah dalam persaingan global," tegasnya.

Jokowi melanjutkan, mindset, pola pikir baru, dan manajemen baru perlu diubah supaya lincah dan selalu mengikuti perubahan zaman.

Dia pun menuturkan, dirinya beberapa kali menyampaikan kepada para menteri agar regulasi-regulasi yang menghambat, tidak memberikan kecepatan dalam bertindak itu dihilangkan.

"Hapus saja, ganti dengan kebijakan-kebijakan yang baru, regulasi-regulasi yang baru sehingga kita fleksibel," pungkas mantan Walikota Solo tersebut.
Sumber: www.jawapos.com
loading...
LIKE & SHARE

0 Response to "Nyelekit, Jokowi Sentil Mendikbud dan Menristekdikti"

Posting Komentar