Ke Sekolah Berperahu, Jam Pulang Guru Ini Ditentukan Angin

JAM menunjukkan pukul 7 pagi. Pak Onal, begitu dia disapa para murid, bergegas naik perahu ke sekolah. “Tidak boleh terlambat. Kalau terlambat, biayanya ditanggung sendiri,” ucapnya ramah. Pagi itu, ada juga empat guru lain yang menumpangi perahu. Dalam perjalan menuju SMP N 2 Satap Tabukan Selatan, Pak Onal mengisahkan perjalanannya menjadi guru. Sebenarnya, ini bukan cita-citanya.

Dia terpanggil ketika melihat kondisi di kampung halamannya yang kekurangan guru. Pasca lulus dari Fakultas MIPA Unsrat tahun 2010 lalu, Onal memantapkan niatnya menjadi guru. Dia lantas melanjutkan studi Pendidikan Profesional Guru (PPG) di Unima. Itu syarat agar sarjana non pendidikan guru bisa mengajar. Setelah kuliah dua tahun, Pak Onal kembali ke kampung halamannya di Desa Kuma Kecamatan Tabukan Tengah, Sangihe.



Image result for kesekolah berperahu jam pulang tergantung angin

MyPassion

Dia menjadi honorer di SMP N 3 Tahuna. Saat itu, ada program lulusan PPG yang kembali ke daerah asal akan diangkat menjadi PNS. Sayangnya, program tersebut hanya janji palsu. Dia tak kunjung diangkat menjadi PNS. “Ternyata tidak ditindaklanjuti oleh Pemda setempat dan terkesan mengambang," kisah Pak Onal yang saat itu belum mengenakkan seragam. Dia dan guru-guru lainnya tak ingin kebasahan.

Menjadi honorer, Pak Onal hanya menerima bayaran Rp240 ribu. Pendapatan itu tak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dalam sebulan. Itulah mengapa dia sampai harus menjual bensin eceran. Sering juga menjadi sopir taksi (kendaraan penumpang semacam taksi gelap).

Sempat berpindah-pindah tempat mengajar sebelum akhirnya menjadi tenaga pendidik di SMP Negeri 2 Satap Tabukan Selatan tepatnya di Desa Batuwingkung. Ini adalah salah satu pulau terluar di Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Tahun 2015, ketika program GGD tahap 1 dibuka, pria kelahiran 1989 ini langsung mendaftar. Sayang, dia tak lulus. “Tuhan belum berkenan,” tuturnya sembari menatap ke luar perahu. Ketika program GGD tahan 2 dibuka, Pak Onal mendaftar lagi. “Akhirnya saya berhasil lolos dengan sekolah penempatan di tempat saat ini. Saya sangat bersyukur karena sebentar lagi akan menjadi seorang PNS. Ini berarti kami masih diperhatikan oleh pemerintah,” ucapnya bahagia.

Pulau Batuwingkung semakin dekat. Menurut Pak Onal, bila cuaca buruk, guru-guru ini terpaksa tak mengajar. “Lokasi sekolah berada di pulau bagian selatan dan rentan dengan angin selatan. Inilah yang menentukan jam pulang sekolah,” ujarnya dengan sedikit berteriak agar suaranya tak diredam mesin perahu.

Angin selatan harus disiasati. Jika bertiup disertai hujan deras mereka harus pulang secepatnya. Terkadang harus menunggu sampai hujan reda hingga sore. “Jika cuaca buruk menghadang kami tak akan bisa ke sekolah," ujar pecinta alam ini. 15 menit berlalu, nakoda perahu mengurangi kecepatan. Tak sampai lima menit, perahu sandar di Pulau Batuwingkung. “Saya ganti baju dulu,” singkatnya sebelum masuk kelas.

Bagi murid-murid, Pak Onal begitu disegani. Ketika mengajar, para murid tampak diam dan menyimak penjelasan. Pak Onal mengajar IPA bagi 69 siswa kelas VII sampai IX. Dia begitu menghargai murid-muridnya yang tekun dan displin. Di samping keluarga kecilnya, semangat murid-murid menjadi motivasinya dalam mengajar.

"Saya belajar banyak dari siswa yang ada di SMP Negeri 2 Satap Tabukan Selatan. Semangat mereka untuk mengenyam pendidikan sangat kuat. Meski tidak seperti siswa yang ada di sekolah lain yang sudah difalisitasi dengan wifi nusantara, fasilitas gedung sekolah masih kurang, 40 persen siswa ke sekolah menggunakan perahu, namun semangat mereka untuk belajar sangat besar. Dan saya tidak ingin mereka ketinggalan informasi,” terangnya usai menyelesaikan jam mengajar.

Pak Onal juga merangkap operator sekolah yang bertanggung jawab atas semua data pokok di sekolah. Kehadiran Pak Onal sangat membantu. Kepala SMP Negeri 2 Satap Tabsel Belsazar Mangensihi SPd akhirnya bisa memenuhi kebutuhan guru IPA di sekolahnya.

Keduanya berharap, program GGD akan terus berlanjut hingga bisa menutupi kurangnya guru di Sangihe yang masih berkisar 400-an. “Saya sangat lega dengan hadirnya GGD. Pak Geonal orangnya sangat bertanggung jawab  dan punya semangat yang kuat untuk memikirkan satu kemajuan,’’ tutur Kepsek.

Tak berapa lama, para murid istirahat. Sesudah jam istirahat, Pak Onal masih punya tugas mengajar. Tugasnya menjadi pendidik tak sebatas lingkungan sekolah. Di desanya, Pak Onal membentuk Kelompok Muda Pencinta Alam (KMPA) Sanghih Rensis Desa Kuma 1.

"Saya membentuk KMPA di Kampung Kuma 1, karena melihat para pemuda yang menjelajah alam tanpa tujuan jelas. Dengan adanya organisasi ini, anak muda diberikan pencerahan tentang alam. Selain itu juga ada kegiatan yang dilakukan seperti bersih-bersih pantai dan lain sebainya," jelas mantan Sekretaris Desa Kuma 1 ini.

Tibalah saatnya kembali ke Desa Manalu di Pulau Sangihe Besar. Untunglah angin selatan tak berulah. Perjalanan pulang semulus perjalanan pagi menuju pulau mungil Batuwingkung.
loading...
LIKE & SHARE

0 Response to "Ke Sekolah Berperahu, Jam Pulang Guru Ini Ditentukan Angin"

Posting Komentar