Gagal jadi Guru, Kini Omzetnya Bisa Rp 60 Juta per Bulan

Sejak kecil, Suhardiman M Yusuf ingin menjadi seorang guru. Namun keterbatasan finansial membuatnya gagal melanjutkan pendidikan. Tak disangka, keterbatasan itu pula yang mendorongnya jadi pengusaha mandiri. Dua kakaknya bisa berangkat haji berkat usaha Suhardiman.

MAHFUD H HUSEN, Ternate

Salon kecantikan itu tak besar-besar amat. Sekitar 4x4 meter luasnya. Salon itu menerima jasa perawatan rambut untuk laki-laki dan perempuan, hingga paket pernikahan seperti make-up, baju, dan dekorasi. Di dalam ruangan, kebaya beraneka warna dan model dipajang di patung-patung manekin. Tulisan Pretty Salon terpampang di depan salon.

Gagal jadi Guru, Kini Omzetnya Bisa Rp 60 Juta per Bulan - JPNN.COM

Pemilik salon, Suhardiman M Yusuf, menyapa ramah Malut Post (Jawa Pos Group). Pria 42 tahun itu biasa disapa Pretty, seperti nama salonnya. Ia melayani sendiri pelanggan yang datang. Suhardiman dan salonnya belum setahun pindah di lokasi sekarang, Kelurahan Bastiong Talangame, Ternate Selatan, Maluku Utara.

Sebelumnya, salon ini bermarkas di Kelurahan Toboko, Ternate Selatan. ”Di Toboko rawan, suka (terjadi) tawuran,” katanya, Sabtu (5/8), mengungkapkan alasan kepindahan.  Sudah 10 tahun pria kelahiran Mailoa, Makian, Halmahera Selatan ini terjun ke bisnis kecantikan. Awalnya, tak pernah terbersit di benaknya akan berkarier di dunia tersebut. Sebab ia sangat ingin menjadi seorang guru.

”Sejak tamat SD di Mailoa tahun 1985, saya lalu pindah ke Ternate untuk lanjut sekolah. Tapi setelah tamat SMA tahun 1990, tidak bisa lanjut kuliah,” tutur Suhardiman.

Sayang, kedua orangtuanya tak mampu membiayai kuliah anak kedelapan dari sembilan bersaudara itu. Suhardiman pun harus mengubur dalam-dalam impiannya menjadi guru. Di sisi lain, keterbatasan ekonomi itu melecutnya untuk banting setir menjadi pengusaha. ”Dulu ingin jadi guru, tapi karena faktor biaya dan orang tua yang tidak mampu sehingga saya tidak bisa kuliah,” kisah anak pasangan Yusuf Saban dan Hatija ini.

Suhardiman lantas melakukan pekerjaan apa saja untuk mengumpulkan modal. Selama 14 tahun, ia akhirnya bisa menyisihkan modal sebesar Rp 5 juta. Uang tersebut digunakan untuk membeli playstation, lantas disewakan.

”Waktu itu pada tahun 2004, saya tinggal di Tidore dengan kakak saya. Uang yang saya kumpul itu kemudian saya belikan PS sebanyak 12 unit untuk disewakan. Saat itu masih jarang orang menyewakan PS,” tuturnya.

Lantaran minimnya pesaing, usaha ini amat menguntungkan Suhardiman. Namun seiring berjalannya waktu, satu per satu bisnis serupa tumbuh subur di Tidore. Usaha PS Suhardiman hanya bertahan empat tahun.

”Tapi modal yang berhasil saya kumpulkan sebanyak Rp 50 juta. Saya kemudian pindah ke Ternate dan buka salon pada 2008,” sambungnya. Suhardiman belajar merawat rambut dan merias secara otodidak. Namun sepanjang berbisnis di dunia kecantikan, ia berulangkali mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kemampuannya.

Di Ternate, Suhardiman mengontrak sebuah bangunan di Kelurahan Tanah Tinggi, Ternate Tengah. Di ruangan tersebut, ia memajang alat-alat kecantikan dan gaun pengantin. Gaun tersebut disewakan untuk pelanggan. Namanya usaha, tidak selalu berjalan mulus. Pendapatan awal salonnya tak seberapa. Tapi Suhardiman tak patah semangat. Setahun berikutnya, salonnya makin diminati pelanggan.

”Waktu itu pendapatan memang tak seberapa, karena memang tren bajunya masih di bawah standar,” terangnya.

Setelah beberapa tahun menetap di Tanah Tinggi, Suhardiman kemudian memindahkan salonnya ke kontrakan yang baru di Toboko. Ia pun kebanjiran pelanggan, baik yang ingin menyewa gaun pengantin, gunting rambut, maupun riasan saat acara.

”Gaun pengantin per paketnya harga Rp 15 juta. Itu ada empat macam baju sekalian dengan riasnya. Biasanya saya terima job selain Ternate itu ada Tobelo, Bacan, dan Tidore. Harganya sama, terkecuali kalau ada yang pakai gaun hanya dua macam, harganya diturunkan,” paparnya.

Saat ini, pelanggan Pretty Salon sudah semakin banyak. Tiap bulan, Suhardiman paling sedikit menerima job untuk pengantin 3 sampai 4 orang. Per paket Rp 15 juta, berarti omzetnya bisa mencapai Rp 60 juta per bulan. Ia juga sudah membuka cabang Pretty Salon di Tanah Tinggi dan mempekerjakan satu anak buah untuk mengelola cabang tersebut. ”Saya fokus urus salon yang induk,” katanya.

Untuk mendapatkan hati pelanggan, Suhardiman selalu turun tangan langsung menangani mereka. Jasa yang diberikan pun disesuaikan dengan keinginan pelanggan sepenuhnya. Gaun-gaun pengantin indah pun dimanfaatkan untuk menarik minat calon pelanggan. Dari hasil pendapatan salon kecantikannya ini, Suhardiman mampu memberangkatkan dua orang kakaknya berhaji ke Tanah Suci. Dan jika tak ada aral melintang, 2019 nanti ia pun akan menyusul kedua kakaknya berangkat ke tanah suci.

”Satu kakak sudah berangkat haji tahun kemarin, sementara yang satu lagi nanti 2018. Insyaallah saya 2019 nanti juga naik haji,” tandasnya.
Sumber: www.jpnn.com
loading...
LIKE & SHARE

0 Response to "Gagal jadi Guru, Kini Omzetnya Bisa Rp 60 Juta per Bulan"

Posting Komentar