Muhadjir: Saya tak Ingin Bunuh Madrasah Diniyah

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menegaskan, dirinya tidak ingin membunuh Madrasah Diniyah dengan program "full day school" yang dia gulirkan. "Saya tidak ingin bunuh diniyah dengan 'full day school', tapi sinergi sekolah dengan TPQ, saya minta perda diniyah," kata Mendikbud Muhadjir Effendy saat menghadiri Gebyar Prestasi Alquran Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial Nahdlatul Ulama (YTPSNU) Khadijah Surabaya, Sabtu (1/4).

Dengan adanya 'full day' yang disinergikan ini, menurutnya, bisa memperkuat Islam. Bukannya meminggirkannya dengan berbagai anggapan dan opini yang negatif terkait budaya mengaji.

"Kalau ngaji bagus dianggap ekstrem, kalau moderat itu ngajinya nggak fasih, saya ingin agama itu menjadi bagian dari karakter dan mental kita," katanya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mendikbud Muhadjir Effendy

Ia menambahkan, Yayasan Khadijah merupakan contoh yang baik terkait bagaimana pelajaran agama dan umum diajarkan secara sinergi. Sehingga melahirkan siswa yang cinta agama dan cinta tanah air.

Ketua Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial Nahdlatul Ulama (YTPSNU) Khadijah Khofifah Indar Parawansa mengatakan, gebyar ini merupakan acara puncak dari rangkaian ujian munaqosah tartil dan tahfid yang diikuti siswa. Terdapat tiga ujian yang diikuti siswa mulai dan ujian tingkat unit pendidikan, tingkat yayasan, dan tingkat Pesantren ilmu Alquran (PIQ) Malang di bawah asuhan KH Bashori Alwi.

Dirinya juga mengapresiasi sistem pendidikan yang masih diterapkan di yayasannya. Apalagi peserta di tahun ini meningkat 50 persen dari tahun lalu, menjadi 400 siswa.

"Alhamdulillah saya bangga kepada siswa siswi Khadijah, dan prestasi ini harus ditingkatkan agar Iulusan Khadijah memiliki kompetensi unggulan dalam membaca dan menghafal Alquran," kata Menteri Sosial ini.

Khofifah menceritakan, sekitar tahun 2006 dirinya meminta supaya ada forum dimana pihaknya bisa melihat, mengukur, dan mengetahui standar kompetensi anak di dalam memahami terutama membaca Alquran dengan baik. "Saya meminta kepada wali murid, kalau anaknya lulus SD dan belum khatam, maka mereka harus rela untuk tidak menerima ijazah, Jadi itu ada di dalam perjanjian," ujarnya.

Dari 2006, pihaknya melakukan ini, dan merupakan bagian dari upaya untuk membangun karakter bangsa. Selain itu, bangsa juga mempunyai pekerjaan rumah (PR) membangun karakter mental. "Kalau yang dibangun denga karakter Qurani maka PR tersebut akan selesai dengan sendirinya. Karena Islam sendiri dibangun dengan karakter damai bukan menakutkan," ujarnya.
Demikian informasi yang kami sampaikan yang kami lansir dari www.republika.co.id . Silahkan like fanspage dan tetap kunjungi situs kami di www.kompasnesia.com. Kami akan selalu memberikan berita terbaru, terhangat, terpopuler, dan teraktual yang diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya. 

Terima Kasih atas kunjungan anda Semoga informasi yang kami sampaikan ini bermanfaat dan terima kasih. Untuk info terbaru lainnya silakan kunjungi laman DISINI..!

Mohon Dishare agar semua rekan - rekan kita tahu

Baca juga informasi terkait di bawah yang juga sangat menarik
loading...
LIKE & SHARE

0 Response to "Muhadjir: Saya tak Ingin Bunuh Madrasah Diniyah"

Posting Komentar