PERJUANGAN GURU SANG PAHLAWAN BANGSA

Tuntutan besar, tetapi hasil akhir diabaikan. Itulah tugas yang terus ditekuninya. Seringkah Anda mendengar seseorang yang mendapat apresiasi dari negara dengan alasan mampu mencetak generasi lebih baik? Kemudian sering mana Anda mendengar ianya masuk penjara karena langkah-langkah perjuangannya yang dianggap salah oleh negara? Di antara kedua hal tersebut mana yang lebih tertampang di media? Kita memiliki jawaban yang sama untuk pertanyaan di atas.

Guru dituntut mendidik anak-anak agar bisa lebih baik. Satu-satunya jalur aman yang tersedia pada bangsa yang sudah tertata rapi peraturannya untuk zaman sekarang ini adalah melalui perubahan karakter anak. Dalam hal ini guru fokus pada perubahan karakter anak yang sebelumnya malas belajar hingga rajin belajar, sebelumnya jahat jadi baik, sebelumnya rambut siswanya panjang hingga pendek dan rapi, sebelumnya seragam sekolahnya tidak rapi hingga jadi rapi, dan masih sangat banyak hal negatif lainnya yang harus disulap oleh pahlawan bangsa tersebut agar jadi bagian golongan-golongan positif.
Noldy Lumangkibe, guru di pulau terluar di Sulawesi Utara sedang memberikan pelajaran bagi siswanya yang belajar di bangunan sekolah sangat sederhana di Desa Bannada. @Kompas.com/Ronny Adolof Buol

Namun, apakah menurut Anda pada jalur aman tersebut tidak muncul kendala-kendala yang mampu menggelengkan kepala? Coba perhatikan (sebagian) pelajar zaman sekarang! Mereka merokok sembarangan, keluyuran ke mana-mana saat jam sekolah, tawuran kerap terjadi di mana-mana, menjalin pasangan tak jelas, dan masih banyak hal yang tertampang jelas di mata masyarakat sebagai potretan-potretan pendidikan anak bangsa. Hal demikian sudah terjadi bertahun-tahun.

Di saat potretan-potretan pendidikan anak bangsa seperti ini tidak teratasi dengan maksimal, maka serentak sang gemuruh tak berpendidikan muncul dan mengatakan “semuanya salah guru”. Sungguh berat tugas mulia ini.

Guru dihujat ramai-ramai saat tidak berhasil meningkatkan reputasi anak bangsa. Ketika pendidikan Indonesia terpuruk, guru juga yang dicabik-cabik oleh suara yang entah berantah dari mana asalnya.

Sebenarnya yang harus kita terawang dari “tenggelamnya” pendidikan Indonesia bukan hanya guru, melainkan banyak faktor lain, seperti fasilitas belajar, dukungan dari pemerintah setempat hingga pemerintah pusat, wewenang guru dalam mengajar, dan masih banyak hal lainnya yang perlu diperhatikan agar peningkatan mutu pendidikan Indonesia bisa lebih baik dari hari ini.

Dari sisi yang berbeda, negara dinilai masih lemah dalam memberi apresiasi apabila guru mampu mengangkat reputasi anak bangsa. Program pemerintah untuk meningkatkan kompetensi guru juga belum maksimal.

Oleh karena itu, khususnya di Aceh sekarang, banyaknya daya saing guru dan kemajuan anak bangsa malah lebih terlihat di tempat pendidikan yang berstatus swasta. Tempat-tempat swasta lebih mengutamakan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) dan hasil akhir yang dipimpin langsung oleh pimpinan tempat tersebut. Guru yang kompeten akan terus diberi reward, guru yang belum mampu akan terus di-upgrade kemampuannya sesuai dengan bidang masing-masing hingga mencapai tingkat kreatif yang luar biasa.

Dalam hal ini saya tidak bermaksud membandingkan secara keseluruhan bahwa tempat pendidikan yang berstatus swasta lebih baik daripada yang berstatus negeri atau pun sebaliknya. Dalam situasi seperti ini saya lebih menekankan, sekaligus mengharapkan agar ke depannya negara lebih mempedulikan proses-proses yang guru terapkan di sekolah hingga pencapaian akhir yang baik.

Banyak guru dan tempat pendidikan negeri yang mampu membawa nama baik pendidikan Indonesia, tetapi apresiasi negara masih lemah. Itu yang masih disayangkan

Sumber; portalsatu.com

Terima kasih telah mengunjungi laman kami dan semoga informasi yang diperoleh bermanfaat dan Segera Bagikan yaaaa!!!!
loading...
LIKE & SHARE

0 Response to "PERJUANGAN GURU SANG PAHLAWAN BANGSA"

Posting Komentar