Ajarkan Puisi Gunakan Pohon Kata untuk Atasi Permasalahan Kesulitan dan Keengganan Menulis

Setiap tahun, saat menjelaskan pembelajaran “menulis puisi” pada siswa kelas VII semester 2, siswa spontan mengeluh kesulitan. Kali ini saya mengajarkan puisi menggunakan pohon kata untuk mengatasi permasalahan kesulitan dan keengganan siswa menulis puisi.

Langkah pembelajarannya sebagai berikut:

Inspirasi Puisi dari Pohon Kata

1. Dalam apersepsi saya membangun motivasi siswa dengan bermain kata melalui larik berantai. Saya mengatakan satu larik tentang puisi bertema keindahan alam sesuai kompetensi dasar yang akan dipelajari. Lariknya sebagai berikut “Rembulan penuh// .......//Merenda kisah. Mentari tersenyum//..........//Dalam dekap//....... Kunci jawabannya: “Rembulan penuh// Malam bertabur bintang// Merenda kisah” Puisi kedua kuncinya “Mentari tersenyum// Bersanding awan// Dalam dekap// Menghangat. Dari kegiatan memotivasi siswa hasil dibahas tentang pola puisi Haiku (5-7-5 suku kata per barisnya), Sonian (6-5-4-3 suku kata tiap barisnya) dan siswa akan mempelajari puisi bebas yang tidak terikat pola tertentu.


2. Siswa dibagi menjadi 7 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 6 orang siswa.


3. Selanjutnya siswa mengamati gambar yang berhubungan dengan keindahan alam dalam LK 1 lalu mengisi matrik yang disediakan dengan pilihan kata yang terinspirasi dari gambar dalam LK 1. Dalam hal ini siswa sudah memiliki pemahaman kata abstrak dan kata konkret.


4. Setiap anggota kelompok adu cepat menyebutkan satu kata dilanjutkan searah jarum jam, dan siswa selanjutnya tidak boleh menyebutkan kata yang sama. Masing-masing anggota minimal mengumpulkan 10 kata untuk satu objek gambar yang diamati.


5. Kelompok yang tercepat menyelesaikan mengerjakan LK 1 diberi tanda bintang sesuai rangking. LK 1 diisi dalam matrik yang diperbesar menggunakan kertas plano.


6. Sebelumnya siswa ditugaskan membuat daun-daun kecil yang sesuai kreasinya. Langkah berikutnya siswa diminta menuliskan kata-kata yang ada di matrik ke daun. Kata-kata konkret yang ditulis dapat membangun imajinasi siswa sehingga memiliki nilai rasa tertentu yang dapat dinikmati oleh panca indra baik penglihatan, pendengaran, perabaan, ataupun perasaan. Siswa juga diperbolehkan mencantumkan turunan katanya. Misalnya, “desir, desiran, berdesir, mendesir.” Diharapkan dengan ini siswa memiliki kosa kata yang lebih kaya.


7. Selesai menuangkan kata-kata dalam daun, siswa adu cepat kembali merangkai daun tersebut dalam pohon yang disusun di kertas plano. Masing-masing siswa dalam kelompok memiliki jenis daun dan warna daun yang berbeda sehingga mereka mengenali pilihan kata yang dimilikinya.

8. Selanjutnya window shopping atau belanja hasil karya. Dalam searah jarum jam, siswa diminta berbelanja pilihan kata yang tidak dimiliki untuk menambah koleksinya.


9. Tugas kelompok selesai, tibalah pada tugas yang sesungguhnya, yakni menulis puisi bertema keindahan alam dan pengalaman yang pernah dialami. Siswa mengerjakan LK 2 yang di dalamnya ada informasi tentang Haiku (bentuk puisi baru sepanjang empat larik dengan pola 5-7-5 suku kata perlarik), Sonian (jenis puisi baru sepanjang empat larik dengan pola 6-5-4-3 suku kata perlarik) dan puisi bebas beserta tiga contohnya. Dengan berbekal pilihan kata yang ada dalam pohon kata siswa diminta menulis puisi minimal tiga buah.


10. Terakhir, menyimpulkan pembelajaran yang telah dilaksanakan, refleksi siswa, dan memberikan tugas terstruktur mandiri berlatih menulis puisi lalu dikirim kepada guru melalui sms untuk dikomentari.
Hal yang berharga dari pengalaman pembelajaran ini, menulis puisi memerlukan pilihan kata yang tepat dan memiliki nilai keindahan. Dengan pohon kata tersebut secara tidak langsung anak belajar diksi dan kosa kata yang berguna saat menulis puisi.

Melalui kegiatan ini siswa sampai tidak menyadari bahwa kegiatan yang dilakukannya ujung-ujungnya harus menulis puisi. Salah satu siswa bertanya, “Bu, bagaimana lagi permainannya?” Dari pertanyaan itu saya sadar bahwa pada pertemuan ini siswa benar benar terhanyut sedang bermain bukan sedang belajar.

Tetapi ada hal yang perlu diperbaiki, terutama dalam pengelolaan waktunya.  Pembelajaran ini dilakukan dalam dua kali pertemuan. Sebaiknya dibuat dalam tiga kali pertemuan karena harus ada proses perenungan saat menuangkan dari pohon kata ke dalam puisi.

Dampak perubahan dari menulis puisi melalui “Pohon Kata” siswa aktif mengumpulkan kosa kata dengan pilihan kata yang tepat, siswa juga menganggap bahwa menulis puisi tidak sulit terbukti dengan hasil refleksi mereka banyak yang menulis, “Saya senang menulis puisi melalui pohon kata.”

Ketuntasan untuk kompetensi dasar ini pun 90 persen di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM). Alhamdulillah, untuk mewadahi minat menulis puisi, saya membuat grup di Facebook ‘Sonian MTsN Garut’ yang beranggotakan guru bahasa Indonesia yang memberi komentar dan apresiasi terhadap postingan siswa. 

Demikian informasi yang kami sampaikan yang kami lansir dari www.prioritaspendidikan.org . Silahkan like fanspage dan tetap kunjungi situs kami di www.kompasnesia.com. Kami akan selalu memberikan berita terbaru, terhangat, terpopuler, dan teraktual yang diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya. 

Terima Kasih atas kunjungan anda Semoga informasi yang kami sampaikan ini bermanfaat dan terima kasih. Untuk info terbaru lainnya silakan kunjungi laman DISINI..!

Baca juga informasi terkait di bawah yang juga sangat menarik
loading...
LIKE & SHARE

0 Response to "Ajarkan Puisi Gunakan Pohon Kata untuk Atasi Permasalahan Kesulitan dan Keengganan Menulis"

Posting Komentar