LULUS PLPG STANDAR SKOR 80 SUDAH KEHARUSAN, BAHKAN NILAI UKG 2016 AKAN JADI 65 DAN .....

Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia (IGI) menyatakan mendukung pemerintah menetapkan Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) dengan nilai standar 80. Tujuannya agar tenaga pengajar Indonesia mampu melahirkan generasi muda yang cerdas demi kemajuan bangsa Indonesia.

Hal itu diungkapkan Ketua Umum Pengurus Pusat IGI, Muhammad Ramli Rahim. “PLPG adalah pintu masuk untuk mendapatkan TPG (Tunjangan Profesi Guru). Dulu pemerintah telah berbaik hati memberikan standar rendah hanya 42, dan kini pemerintah meminta standar 80 dan itu seharusnya menjadi sebuah keniscayaan,” ungkap Ramli kepada MAKASSARTERKINI.com, Sabtu 24 September 2016.

Image result for plpg sertifikasi guru 2016

Ramli mengatakan sebenarnya IGI memilih bekerja meningkatkan kompetensi guru dibanding berdebat soal ini. Namun beberapa pihak mencoba menghalangi pemerintah membuat standar tinggi, karena itu IGI perlu menyatakan sikap.

Pendiri lembaga kursus Ranu Prima College (RPC) ini memisalkan,jika suatu ketika anak atau cucu bapak ibu pulang dari sekolah membawa hasil ujiannya lalu tertulis angka 42, apakah bapak ibu gembira? Selanjutnya, jika yang tertulis adalah 60 apakah bapak ibu puas?

Pertanyaan ini perlu diajukan mengingat hampir seluruh rakyat Indonesia akan memberikan jawaban yang hampir sama, yaitu tidak puas dan tidak menggembirakan. “Lalu mengapa kita membiarkan guru dengan standar rendah mengajar di sekolah, mengapa kita biarkan guru dengan kemampuan minim menjadi tulang punggung mempersiapkan masa depan bangsa?” tanya Ramli.

Mantan fungsionaris Partai Golkar Sulsel ini menuturkan, guru-guru yang telah menerima TPG hampir 10 tahun pun masih bermasalah. Hanya 6,1 persen dari 2,69 juta guru yang dinyatakan lulus UKG dan tak perlu belajar lagi. Sementara 93,9% di antaranya harus melalui diklat berupa daring dan luring. Lalu mengapa, kata Ramli, kita ingin memberikan ruang kepada mereka yang berkemampuan rendah untuk mengisi formasi sertifikasi guru.

Pemerintah, dia melanjutkan, bahkan sudah menetapkan target capaian UKG 2016 di angka 65, 2017 di angka 70, 2018 di angka 75, 2019 di angka 80 dan terdapat lebih dari 2,5 juta guru yang harus dilatih agar mampu mencapai target 80 di tahun 2016. “Lalu mengapa untuk PLPG kita harus menolak angka 80?”


Menurut mantan Ketua IGI Sulsel ini, PLPG 80 justru menjadi keharusan. Cukuplah 2,5 juta guru ini yang diurusi oleh pemerintah untuk ditingkatkan kemampuannya, bukan menambah beban pemerintah dengan menerima mereka yang tak layak menjadi guru, lalu memaksa mereka mempersiapkan masa depan bangsa.

IGI mengajak seluruh guru untuk meningkatkan kemampuannya. Ramli mengungkapkan sudah saatnya berhenti menyalahkan pemerintah, mengkritik dan meminta pemerintah membatalkan standar tinggi yang sudah seharusnya diterapkan.

“Untuk mencapai PLPG 80 IGI siap menggelar seminar, pelatihan uji coba ujian guru berbasis komputer dan seterusnya. Kini kami terus bergerak, saya sendiri saat ini sedang menjalani Road Show Literasi Produktif di 15 Kabupaten/Kota di Sulsel sebagai upaya peningkatan kompetensi guru. Mulai dari Makassar, Maros, Pangkep, Barru, Pare, Pinrang, Sidrap, Palopo, Luwu Utara, Luwu Timur, Wajo, Bone, Takalar, Jeneponto, Bantaeng dan hari ini di Bulukumba,” jelas Ramli.


Demikian informasi yang kami sampaikan . Silahkan like fanspage dan tetap kunjungi situs kami di www.kompasnesia.com. Kami akan selalu memberikan berita terbaru, terhangat, terpopuler, dan teraktual yang diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya. 

Terima Kasih atas kunjungan anda Semoga informasi yang kami sampaikan ini bermanfaat dan terima kasih. Untuk info terbaru lainnya silakan kunjungi laman DISINI..!

Baca juga informasi terkait di bawah yang juga sangat menarik

loading...
LIKE & SHARE

0 Response to "LULUS PLPG STANDAR SKOR 80 SUDAH KEHARUSAN, BAHKAN NILAI UKG 2016 AKAN JADI 65 DAN ....."

Posting Komentar