MADRASAH SUDAH BANYAK YANG MAJU. BUKTINYA, BISA BERPRESTASI DI KANCAH DUNIA

Sekolah itu reyot. Kayu besar menyangga satu dindingnya. Atapnya kerap bocor. Lantainya tanah.

Meski begitu, 10 murid sekolah itu tak ingin menyerah. Bu Mus dan Pak Harfan menjadi duo guru yang tak tergantikan. Memberi pelajaran agama dan pengetahuan sains tanpa pamrih.

Sekolah itu yang belakangan jadi latar cerita kehidupan Andrea Hirata, yang kemudian dia novelkan. Dalam novel berjudul Laskar Pelangi, Andrea merekam kehidupan madrasah di tanah kelahirannya, Belitung.


Madrasah yang diujung tanduk. Tapi, berkat madrasah itu pulalah Andrea dapat menginternalisasi semangat dan pengetahuan Islam ke dalam dirinya. Dia bersama kawan-kawannya, Lintang, Mahar, Kucai, Harun dkk selalu tampil kreatif.

Meski terdapat fiksi di dalam kisah itu, madrasah yang ditunjukkan Andrea dalam novelnya, masih banyak ditemukan di berbagai penjuru daerah hingga saat ini.

Namun mereka, siswa madrasah terus membuktikan diri. Prestasi-prestasi dari akademik hingga non akedemik mereka torehkan.

"Saya mengilustrasikan anak-anak madrasah itu sederhana, mereka kalau lulusan tidak pernah corat-coret dan pawai motor. Paling-paling sujud syukur. Fenomena ini yang jadi daya tarik masyarakat," kata Direktur Pendidikan Madrasah M Nur Kholis Setiawan.

Berikut wawancara Dream, dengan Nur Kholis yang dilakukan melalui sambungan telepon, Senin 1 Agustus 2016;

Belakangan mulai tereskpos banyak murid madrasah yang meraih prestasi. Pendapat Anda mengenai itu?

Itu sudah luar biasa. Saya melihat data, prestasi anak-anak madrasah itu di semua bidang. Tidak hanya akademik, yang diukur dengan perlombaan seperti olimpiade, namun juga hal-hal lain misal yang non-akademik maupun semi-akademik. Dalam lima tahun terakhir, saya lihat peningkatannya luar biasa.

Banyak siswa-siswa madrasah di Olimpeade Sains Nasional. Anak madrasah banyak mendapat juara di level nasioanl. Kalau robotik itu semi akademik, itu juga memenangkan kejuaraan di dalam maupun luar negeri. Kalau non akademik, misalnya prestasi olahraga sudah banyak.

Saya melihat dari perspektif, kalau tidak boleh dianggap remeh dalam kebijakan pemerintah. Oleh karena itu dalam rangka menumbuh kembangkan semangat madrasah di Indonesia kami menyelenggarakan event-event bertaraf nasional. Misalnya saja Ajang Kompetisi Seni dan Olah Raga Madrasah (AKSIOMA) dan juga Kompetisi Sains Madrasah (KSM).

Sejauh ini kemampuan siswa madrasah jika dibandingankan dengan siswa sekolah umum seperti apa?

Dari sisi perkembangan lima tahun terakhir itu, sudah bisa mengikuti prestasi mereka (sekolah umum).

Apa persoalan yang muncul dari pembedaan antara sekolah umum dan madrasah?

Ada persoalan kepedulian yang selama ini mungkin kurang. Ditambah dengan adanya perbedaan pengelolaan pendidikan. Kalau Dikbud (Dinas Kebudayaan) itu menggunakan strategi pendanaan otonomi daerah, dan mereka punya Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten, kami masih dianggap vertikal (dengan Kementerian Agama Pusat).

Sehingga kerap muncul tafsir di daerah, kalau ada ajang OSN (Olimpiade Sains Nasional) anak madrasah tidak boleh ikut. Terdiskriminasi-lah istilahnya.

Agar tidak muncul 'diskriminasi' bagaimana?

Tentu kami menyelenggarakan sendiri, KSN dan AKSIOMA, daripada di daerah sering mengalami hambatan dan tereliminsi mending membuat itu.

Berarti kalau di daerah, kerap masih kerap muncul persepsi miring mengenai madrasah?

Ya, masih. Mereka yang di daerah kerap menganggap, madrasah itu urusan pusat, Kementerian Agama. Bagi saya semestinya tidak boleh seperti itu. Persoalan sentralisasi dana pemerintah itu hanya persoalan sistem untuk menjalankan kebijakan negara. Tapi, fakta terjadi di lapangan berbeda. Untuk itu perlu kita semua benahi.

Secara akreditasi, madrasah bagaimana?

Secara akreditasi bagus. Menurut data saya, untuk aliyah, dasar menengah, dan menengah hanya tinggal 16-17 persen yang belum terakreditasi. Dan kami berkomitmen untuk segera menyelesaikan.

Katakanlah anggaran pemerintah untuk akreditasi dalam setahun empat persen dalam skema APBN, target dapat dicapai dalam empat tahun. Sifat pemerintah kan hanya memberi stimulan, karena 84 persen madrasah itu milik masyarakat (swasta). Hanya 6 persen milik pemerintah. Kalau madrasah negeri, tentu semua sudah akreditasi. Untuk itu kami punya komitmen untuk melakukan bantuan dan pendampingan.

Dari data 2011-2012, sebanyak 10 persen madrasah yang terakreditasi A? Apakah jumlah itu tetap?

Sudah naik.

Dari jumlah 84 persen itu detailnya? Berapa yang mendapat akreditasi A?

Yang paling dominan B. Jadi kalau hitung 84 persen dianggap 100 persen, yang terakreditasi B itu berjumlah 50 persen. Adapun yang terakreditasi A dan C masing-masing 25 persen.

Untuk yang B dan C itu juga ditargetkan mendapat A?

Target untuk A kami mungin belum berani. Mungkin yang dilakukan adalah dari C ke B. Kami juga harus mengukur kemampuan karena lagi-lagi tantangan untuk madrasah swasta-kan sarana dan prasarana.

Selain itu, madrasah-madrasah itu kan masuk dalam tiga plan, yang pertama madrasah swasta yang berada dalam naungan yayasan besar. Biasanya yayasan besar, pesantren dan santrinya banyak sampai ribuan. Yang dalam kategori ini kan pasti kuat.

Tapi kalau madrasah di daerah pedalaman, di daerah tapal batas, tentu masih kesulitan untuk mendapat akreditasi A.

Program agar membuat madrasah lebih modern?

Saya mengistilahkan dengan diservifikasi atau penganekaragaman. Sebab madrasah juga beragam. Ada tiga kelompok besar madrasah.

Pertama, madrasah akademik. Madrasah jenis ini memiliki potensi berkembang dalam bidang sains. Contohnya, misal Madrasah Insan Cendekia. Dan Insan Cendekia itu menjadi rujukan bagi sekolah lainnya.

Kedua, madrasah vokasi. Atau madrasah yang memiliki potensi keterampilan atau kejuruan. Ini penting, sebab tidak semua alumus jenjang menengah melanjutkan ke pendidikan tinggi.

Sehingga kami berpikir, agar siswa-siswa Madrasah Aliyah yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi ini mendapatkan pendidikan kejuruan melalui kegiatan intrakulikuler. Semi-SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) jadinya.

Tentu disesuaikan dengan potensi lokal yang ada. Contoh realnya ada di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, ada madrasah perikanan untuk menjawab tantangan potensi laut yang ada. Di Rokan Hulun, Riau, juga ada

Sehingga dengan demikian dapat merawat 104 madrasah-madrasah kejuruan swasta dapat terlindungi.

Ketiga, madrasah yang khusus untuk kajian keislaman. Sehingga, pemahaman agama Islam dapat lebih mendalam. Beda dengan sekolah umum yang hanya mendapat Pendidikan Agama Islam (PAI).

Menghadapi persaingan global dan paham berbau esktrem?

Justru itu. Seharusnya Islam tidak hanya disampaikan melalui PAI saja. Madrasah ini kan komprehensif karena ada akidah-akhlak, Fiqih, Alquran, Hadis, bahasa Arab, otomotis ini agak dalam. Untuk itu, kami sungguh-sungguh menjadikan madrasah sebagai benteng anak-anak dengan paham kebangsaan Indonesia juga.

Target minimal lulusan madrasah itu seperti apa?

Kalau menggunakan tiga tipologi yang sudah disebutkan sebelumnya, kalau tipe pertama ya jelas ilmuwan, kalau tipe kedua ya output-nya ya tenaga kerja. Kami juga telah bekerja sama dengan perusahaan asing, salah satunya Jepang.

Kami MoU dengan mereka, sehingga siswa-siswi madrasah dapat bekerja atau magang dengan mitra dengan pihak terkait. Adapun yang tipe ketiga, ya kami persiapkan untuk ulama.

Tentu saya sadar ini tidak tercapai dalam satu atau dua tahun mendatang. Tapi, butuh proses. Meski begitu, setidaknya, ada garis demarkasi yang jelas dan regulasi yang jelas untuk pengembangan tiga tipologi itu.

Kendala pengembangan madrasah sejauh ini?

Pertama, sarana prasarana yang belum mencukupi. Kedua sumber daya guru. Dari 813.595 yang PNS hanya 16 persen. Ini ditambah dengan output keluaran guru dari pergurun tinggi Islam. Untuk itu, diperlukan sinergi antara Perguruan Tinggi Islam, Perguruan Tinggi dan Madrasah. Kami tidak butuh lagi guru PAI, tapi yang kami butuhkan guru-guru sains dan guru-guru kejuruan.

Regulasi-regulasi baru mengenai pendidikan?

Mengenai regulasi itu masih bisa didiskusikan. Ini kan sifatnya tidak absolut, tho? Rujukannya Undang-undang Sisdiknas. Nah, peraturan-peraturan yang lain mengacu pada itu.

Mengenai tunjangan gaji ketiga non-PNS yang dicabut. Pendapat Anda?

Ya kan kita sudah mahfum kalau gaji ketiga belas kan memang untuk PNS. Ya kita tidak bisa menyamakan antara yang PNS dengan non-PNS.

Ada proposionalitas dalam memandang suatu kebijakan. Keberadaan guru non-PNS di madrasah, kalau mereka belum memiliki sertifikat pendidik, mereka ada tunjangan fungsional dari pemerintah, meskipun angkanya masih di bawah UMR. Tapi, mereka kan guru-guru yayasan, harusnya yayasanlah yang bertanggung jawab.

Harus ada tanggung jawab bersama antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan masyarakat.

Kalau guru-guru non PNS itu terima tunjangan profesi, berapa jumlahnya?

Mulai 2015 ini disetarakan dengan golongan. Dulu-kan Rp1,5 juta. Tapi per 2015 sudah disetarakan dengan golongan. Misal, ada guru non-PNS sudah bekerja 20 tahun, maka dia disetarakan dengan golongan III B. Maka tunjangan gajinya, setara golongan PNS III B.

Ya kami sadar persoalan mengenai jumlah guru ini banyak. Karena jumlah tadi.

Masalah ini akan menghambat kendala kiblat pendidikan Islam di dunia?

Begini, apapun kendala itu sangat lumrah. Bukan berarti itu tidak bisa memiliki optimisme. Jadi ketika pimpinan menyampaikan rujukan Indonesia akan menjadi rujukan Islam di dunia, maka kita harus wujudkan di masa-masa mendatang.

Harapan untuk madrasah ke depan?

Harapan kan kalau melihat animo masyarakat masyarakat rendah. Nyatanya kan tidak. Saya ambil contoh di dekat Manado, Sulawesi Utara, untuk Madrasah Ibtidaiyah Negeri jumlah siswanya 2013 orang. Cari saja ada nggak sekolah dasar jumlah siswanya sebanyak itu.

Saya saja kaget. Itu belum madrasah yang ada diperkotaan, yang antre kan ribuan. Masyarakat sudah punya pandangan berubah

Sumber: http://www.dream.co.id

Terima kasih telah mengunjungi laman kami. Madrasah lebih baik, lebih baik madrasah
loading...
LIKE & SHARE

0 Response to "MADRASAH SUDAH BANYAK YANG MAJU. BUKTINYA, BISA BERPRESTASI DI KANCAH DUNIA"

Posting Komentar